Thursday, September 18, 2008

Siapa Bilang Islam Teroris???

Posted by giel at 10:57 PM 0 comments Links to this post
ISLAM selalu terkait dengan teroris ? Itulah kira-kira yang ada di benak pikiran sebagian besar orang yang belum mengenal Islam secara utuh. Bagaimana tidak, hampir setiap aksi terorisme selalu dikaitkan dengan Islam. Bagaimana kita sebagai seorang yang bernafaskan islam menyikapi hal ini???

Peledakan World Trade Centre (WTC) di Amerika, pembajakan pesawat, peperangan di Afganistan dan Irak, peristiwa bom Bali, dan Hotel JW Marriott di Jakarta, merupakan sebagian aksi terorisme yang dituduhkan kepada umat Islam sebagai otak dan pelaku aksi. Kejadian beberapa waktu lalu di Spanyol berupa peledakan kereta api yang menewaskan ratusan orang serta penyenderaan anak-anak di Rusia, kemungkinan besar tuduhannya kepada kaum muslimin.

Akibat tuduhan itu, cucuran darah dan air mata senantiasa membanjiri terutama negeri kaum Muslimin. Seorang anak kecil harus rela hidup sebatang kara, karena sanak keluarganya tewas mengenaskan dihantam bom serdadu Amerika dan sekutunya. Seorang wanita Muslim diperkosa massal dihadapan suami dan anak-anaknya, kemudian dibunuh secara biadab oleh serdadu dari negara yang mengaku menjungjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi. Masih banyak lagi perlakuan tidak manusiawi yang harus diterima Muslimin akibat operasi militer pencarian pelaku teroris.

Di negara yang belum terkena operasi militer pencarian para teroris, Muslimin juga mendapat perlakuan diskriminasi. Pelarangan jilbab juga atribut-atribut Islam lainnya terjadi di Turki, begitu juga Prancis yang baru saja mengeluarkan pengumuman resminya.

Serangkaian aksi teroris ini, tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh salah seorang atau sekelompok orang yang mengatas namakan Islam. Tapi, perbuatan itu tak bisa dijadikan alasan bagi negara-negara Barat dan Timur menuding dan menuduh, Islam penganut paham terorisme.
Dalam Islam, meskipun dalan keadan genting sekalipun (baca : peperangan) ada rambu-rambu yang tak boleh dilanggar. Seperti, merusak tempat ibadah, pasar, pepohonan (tumbuhan), membunuh orang yang sudah tua, anak-anak, perempuan, dan orang yang sudah menyerah. Sementara, aksi-aksi teror yang marak saat ini, merenggut ribuan korban jiwa tanpa kenal umur, jenis kelamin, berdosa atau tidak berdosa, selain merusak tempat-tempat umum. Bahkan, sebagian yang jadi korban justru Muslimin. Jelas ini bukan dari Islam.

Namun deri semua itu mau tidak mau dengan kejadian yang melibatkan beberapa tokoh islam seperti imam Abu Bakar Ba`ashir terutama Imam Samudra yang sudah diponis hokum mati ,umat islam tidak bias begitu saja mengelak meski semua tuduhan itu semua kurang bahkan tidak berdasar fakta yang otentik dilapangan , namun itulah Indionesia yang mau tidak mau, yang langsung tidak langsung tetap berada dibawah kekuasaan interpretasi asing dimana Amerika sebagai dalangnya dari semua tuduhan .Maka tak heran dengan kejadia kejadian diatas secara sepontan begitu banyak buku buku terbit mengenai masalah teroris ini terutama pandangan aksi aksi bom syahid yang mengundang pro dan kontra dikalangan para ulama besar di dunia.Dan diantara buku buku itu diantaranya mengenai seputar teroris ,fatwa ulama mengenai hokum meledakan diri dan banyak lagi .

Berdasarkan hal di atas, buku itu tulis oleh ulama-ulama besar abad ini, yang mengupas tuntas bagaimana sebenarnya manhaj Islam melihat kejadian-kejadian tersebut, serta jawaban kepada seluruh umat manusia dengan menggunakan dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunah disertai argumen-argumen kuat bagaimana sebenarnya Islam menyikapi masalah terorisme. Dan berdasarkan hal tersebut juga Imam Samudara mencoba menjelaskan alasan alasan bahwa islam bukanlah teroris meski dalam buku ini ia tertuduh langsung sebagai peelaku teroris Indonesia, meski memang pendapatnya kebanyakan ditentang namun mungkin ia lebih melihat fatwa dilapangan bahwa harga diri islam banyak yang diinjak injak kehormatan dirinya.

Buku ini berusaha membuka wawasan serta pola pikir yang sehat bagaimana sebenarnya agama Islam yang utuh, apa tanggapan Islam mengenai terorisme serta hukuman apa yang pantas bagi otak pelakunya ? Di samping itu, dalam buku ini akan didapati nasihat-nasihat emas para ulama besar kepada perorangan atau kelompok perihal manhaj yang benar dalam mendakwahkan Islam agar bisa diterima umat manusia. Juga, pembahasan tentang Khwarij serta anak cucunya yang terus berkembang dari masa ke masa, yang menimbulkan pertumpahan darah di kalangan Muslimin, karena kesalahan dalam memahami nash-nash Alquran dan Assunah.

Buku ini terdiri dari bab . Tiap bab berisi fatwa atau hukum dari ulama mengenai terorisme. Di antaranya, hukum pengeboman di negara-negara Islam dan sekitarnya, hukum keluar dari penguasa Muslimin, hukum demontrasi, hukum pembunuhan, hukum membajak pesawat, hukum pemogokan, hukum bom bunuh diri, hukum pengkafiran, hukum mencela para ulama, dan hukum jihad.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah, memberikan penjelasan mengenai peristiwa penabrakan dua pesawat terbang pada gedung WTC di Amerika. Perlu kiranya penjelasan tersebut diketahui oleh setiap Muslim maupun non-Muslim. Ia menyimpulkan beberapa hal, pertama, peristiwa-peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat seperti pembajakan pesawat terbang, kepanikan/ketakutan, pembunuhan dengan membabi buta merupakan bentuk kezhaliman, ketidakadilan, dan permusuhan. Hal tersebut bukan dari Islam, bahkan perbuatan itu merupakan perkara yang diharamkan dan termasuk dosa besar.meski memang ada pendapat dan banyak pendapat yang menentang pendapat diatas diantaranya buku aku melawan teroris ini namun semua itu tidaklah bias disalahkan satu sama lainnya melainkan adnya kesalahan dalam memaknai sesuatu .

Kedua, seorang Muslim yang memahami masalah-masalah agamanya serta mengamalkan Kitabullah dan Sunah Nabinya tidak akan melakukan perbuatan itu karena takut dengan kemarahan Allah serta akibat jelek dan kerusakan yang akan ditimbulkannya. Ketiga, wajib bagi para ulama menjelaskan kebenaran dalam persoalan seperti ini dan menyebarkan kepada dunia, tentang Islam secara global, bahwasannya Islam tidak membolehkan perbuatan-perbuatan itu selamanya.

Keempat, kepada media massa dan orang-orang yang berada di baliknya yang menghasut, menyebarkan fitnah, merusak reputasi Islam dan Muslimin, memecahbelahnya, serta mengobarkan kemarahan antar sesama, wajib berhenti dari kesesatannya. Mengetahui bahwasannya orang adil lagi berakal dan mengerti Islam tidak mungkin menuding tuduhan-tuduhan terhadap Islam dan tidak akan melemparkan fitnah seperti ini kepada Islam. Karena, sepanjang sejarah tidak pernah dikenal pengikut agama ini yang berpegang teguh kepada agama, kecuali selalu menjaga hak dan tidak ada permusuhan serta kezaliman.

Mengutip pendapatnya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam buku mengatakan, maraknya aksi bom bunuh diri yang dilakukan sebagian Muslimin sebagai bentuk perlawanan terhadap hagemoni negara penindas tidak dikategorikan sebagai syahid.

Menurutnya, perbuatan sebagian orang yang mengorbankan diri dengan jalan membawa bom kemudian meledakkannya di tempat kaum kuffar merupakan bentuk bunuh diri. Orang yang melakukan bunuh diri maka ia akan kekal di neraka selamanya. Karena orang itu melakukan bunuh diri bukan untuk kemaslahatan agama Islam. Sebab, jika ia membunuh dirinya serta membunuh sepuluh, seratus, atau dua ratus orang, hal itu tidak mendatangkan manfaat bagi Islam dan tidak ada orang yang mau masuk Islam. Bahkan, boleh jadi hal itu akan memunculkan kemarahan musuh Islam, hingga mereka membinasakan kaum Muslimin dengan sekuat tenaga.
Sementara itu, menyikapi tentang pengkafiran dan pengeboman yang marak terjadi di negeri Islam dan selainnya. Majelis Kibarul Ulama mengeluarkan penjelasan. Pertama, pengkafiran termasuk hukum Syar'i yang sumbernya berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak setiap perbuatan disifati dengan kekafiran baik perkataan maupun perbuatan merupakan kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ketika mengkafirkan seseorang, tidak dibenarkan cukup hanya dengan syubhat atau persangkaan semata, mengingat dampak yang ditimbulkan oleh hal tersebut. Kedua, akibat yang ditimbulkan oleh keyakinan yang salah ini seperti penghalalan darah, terinjak-injak kehormatan, terampasnya harta secara khusus maupun umum, pengeboman pemukiman dan kendaraan dan peledakan gedung-gedung. Kesemuanya ini dan yang semisalnya diharamkan menurut syariat (ijma muslimin) karena menjadi penyebab hilangnya hak orang yang tidak berdosa, hilangnya hak harta, hilangnya hak rasa aman dan menetap dan hak kedamaian hidup di perumahan dan lingkungan mereka serta hilangnya kepentingan-kepentingan umum yang harus ada pada manusia. Ketiga, setelah majelis Kibarul Ulama menjelaskan hukum mengafirkan manusia tanpa didasari petunjuk kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, serta bahaya memutlakan hal tersebut sehingga menimbulkan pengaruh yang buruk, maka diumumkan kepada dunia, Islam berlepas dari orang yang berkeyakinan salah seperti ini, dan hal-hal yang terjadi di beberapa negeri seperti pertumpahan darah orang tak berdosa, peledakan perumahan dan kendaraan serta bangunan-bangunan milik swasta maupun pemerintah dan penghancuran gedung-gedung, merupakan tindakan kriminalitas dan Islam berlepas darinya.

Dalam buku ini didapati sedikit karancuan. Ketika Kibarul Ulama mengeluarkan penjelasannya. ( ...maka Majelis Kibarul Ulama mengeluarkan penjelasan berkaitan dengan hukum tersebut sebagai bentuk nasihat kepada Allah dan para hamba-Nya,...) . Padahal sudah jelas, Allah Swt tidak memerlukan nasihat siapa pun, karena Allah Mahabesar dan Maha Sempurna. Kesalahan yang tampak sepele, namun sebenarnya sangat vital. Mudah-mudahan ini kesalahan tidak disengaja dari penulis ataupun pembantu buku ini. Meskipun buku ini sederhana dan banyak mengundang kontropersi namun alangkah baiknya kita selaku manusia yang lemah tidak begitu saja mengklaim teroris dan lain sebagainya.

Buku ini dapat dibaca oleh umat Islam sendiri maupun umat lain yang belum mengenal Islam secara utuh, sehingga dapat memahami isu-isu terorisme secara bijak, dan terhindar dari buruk sangka terhadap Islam dan umat Islam.

Monday, September 15, 2008

Respon Umat Kristen Atas The Davinci Code

Posted by giel at 5:05 PM 0 comments Links to this post
Dr Darrell L. Bock, professor Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, tidak dapat menyembunyikan rasa geramnya, setelah membaca The Da Vinci Code. Katanya, “No longer is The Da Vinci Code a mere piece of fiction. It is a novel clothed in claims of historical truth, critical of institutions and beliefs held by millions of people around the world.” Jadi, kata professor ini, Da Vinci Code memang bukan sekadar novel fiksi biasa, tetapi sebuah novel yang diselubungi dengan klaim kebenaran historis dan kritik terhadap institusi dan kepercayaan agama Kristen.

Maka, Bock mengerahkan kemampuannya untuk menulis bantahan terhadap novel ini. Melalui bukunya, Breaking the Da Vinci Code (Nashville: Nelson Books, 2004). Bock melakukan kajian historis untuk mengkritik berbagai fakta sejarah yang disajikan Brown.

Bock hanyalah satu dari puluhan teolog Kristen yang tersengat The Da Vinci Code. Di toko-toko buku internasional, kini berjejer puluhan buku yang menyanggah novel itu.Ya, The Da Vinci Code, memang hanya sebuah novel fiksi. Tetapi, novel itu telah menyengat dan menggoncang kepercayaan dalam tradisi Kristen yang telah berumur 2000 tahun. Maka, meski hanya sebuah novel, sebuah cerita fiksi, tetapi dihadapi dengan serius oleh kalangan teolog Kristen.

Novel yang dibaca oleh puluhan juta orang di dunia ini bagaimana pun termasuk luar biasa dan digarap dengan riset yang serius. Brown mengklaim bahwa berbagai fakta sejarah seputar Yesus, Maria Magdalena, Opus Dei, The Priori of Sion, yang dipaparkan dalam novelnya adalah 100 persen benar. “Semua deskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia yang dipaparkan dalam novel ini adalah akurat,” tulis Brown dalam pembukaan novelnya.

Mengapa novel ini begitu menyengat para teolog Kristen??? Itu tidak lain, karena novel ini memaparkan fakta-fakta baru tentang Yesus yang membongkar dasar-dasar kepercayaan Kristen yang bertahan selama 2000 tahun. Dalam Kristen, dogma pokok dan paling inti adalah kepercayaan tentang kebangkitan Yesus (resurrection). Bahwa setelah mati di tiang salib, Yesus bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Dalam Bible Perjanjian Baru disebutkan, bahwa saksi pertama kebangkitan Yesus – yang menyaksikan kubur Yesus kosong – adalah seorang wanita bernama Maria Magdalena.

Anak Cucu Yesus
Jika dasar kepercayaan ini dibongkar, maka runtuhlah agama Kristen. Paul Young, dalam bukunya, Christianity, menulis, bahwa tanpa resurrection, maka tidak ada “kekristenan”. Ibarat potongan-potongan gambar (jigsaw), maka jika resurrection dibuang, jigsaw itu tidak akan membentuk apa yang disebut sebagai Christianity.

“We can not remove a portion of the Christian jigsaw labelled “resurrection” and leave anything which is recognizable as Christian faith. Subtract the resurrection and you destroy the entire picture.” (Paul Young, Christianity, London: Hodder Headline Ltd, 2003).

Nah, the Da Vinci Code adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen itu. Betapa tidak, dalam novel ini, misalnya digambarkan bahwa sebelum disalib Yesus sebenarnya sempat mengawini Maria Magdalena dan mewariskan gerejanya kepada Maria Magdalena, bukan kepada Santo Petrus yang kemudian melanjutkan pendirian Gereja di Roma. Bahkan, bukan hanya kawin, Yesus pun punya keturunan dari Maria Magdalena, yang karena takut dikejar-kejar murid-murid Yesus maka melarikan diri ke Perancis. Keturunan Yesus itu masih tetap ada hingga kini, dan selama ratusan tahun memelihara tradisi Gereja garis Maria Magdalena. Rahasia ini masih tetap dipegang, dan disimpan dengan sangat ketat. Selama ratusan tahun itu pula, gereja Katolik berusaha memburu para penganut Gereja Maria Magdalena dan membantai anak keturunan Yesus yang dikhawatirkan mengancam kekuasaan Gereja Katolik dan Gereja-gereja yang menuhankan Yesus.

Dalam novelnya, cerita dan fakta sejarah seputar Yesus dihadirkan melalui dialog tokoh-tokohnya, sehingga terkesan sebagai ungkapan realitas sejarah. Karena itu, dalam beberapa iklannya, buku ini digambarkan sebagai “memukau logika dan menggoyang iman.” Bukan itu saja. Melalui The Da Vinci Code, Brown juga membangun citra buruk Vatikan dengan nyaris “sempurna”. Bagaimana, misalnya, Paus mendukung aktivitas Opus Dei, sebuah kelompok Katolik yang tidak segan-segan melakukan pembunuhan dengan kejam dalam menjalankan misinya.

Sebut misalnya, sebuah dialog antara agen Sophie Neveu, agen rahasia Perancis yang juga keturunan Maria Magdalena, dengan Leigh Teabing, seorang yang digambarkan sebagai bangsawan Inggris dan pakar sejarah Kristen. Sophie hanya terbengong-bengong mendapatkan berbagai fakta baru seputar Yesus dari Teabing. Ia sulit menolak bukti yang disodorkan Teabing dari Gnostic Bible, bahwa Yesus memang mengawini Mary Magdalena dan mempunyai keturunan. Di Gospel of Philip, misalnya tertulis :

“And the companion of the Saviour is Mary Magdalene. Christ loved her more than all the disciples and used to kiss her often on her mouth. The rest of the disciples were offended by it and expressed disapproval. They said to him, “Why do you love her more than all of us?”

Jadi, kata Bible ini, Yesus mempunyai pasangan bernama Mary Magdalena dan terbiasa mencium Maria di bibirnya. Yesus mencintai Magdalena lebih dari pengikutnya yang lain, sehingga menyulut rasa iri hati. Itulah yang akhirnya memicu pelarian Mary Magdalena dari Yerusalem ke Perancis dengan bantuan orang-orang Yahudi. Dalam bahasa Aramaic, kata “companion” menurut Teabing, bisa diartikan sebagai “pasangan”. Sophie yang membaca bagian-bagian berikutnya dari Bible Philip itu menemukan fakta betapa romantisnya hubungan Yesus dengan Maria Magdalena. Ia lalu mengingat masa silamnya, ketika para pendeta Perancis mendesak pemerintahnya untuk melarang peredaran film The Last Temptationn of Christ; sebuah film garapan Martin Scorsese yang menggambarkan Yesus mengadakan hubungan seks dengan seorang wanita bernama Maria Magdalena.

Dalam diskursus gender equality saat ini, wacana tentang pewarisan Gereja oleh Yesus kepada seorang wanita tentu saja sangat menarik. Sebab, hingga kini, gereja Katolik tetap tidak mengizinkan wanita menjadi pastor. Begitu juga dengan doktrin “larangan menikah bagi pastor” (celibacy), masih tetap dipertahankan, meskipun sekarang mulai banyak para teolog Katolik yang menggugat larangan kawin ini. Prof Hans Kung, misalnya, melalui bukunya, The Catholic Church : A short history (New York: Modern Library, 2003), menyebut doktrin celibacy bertentangan dengan Bible (Matius, 19:12, 1 Timotius, 3:2). Doktrin ini, katanya, juga menjadi salah satu sumber penyelewengan seksual di kalangan pastor. Pendukung novel Dan Brown tentu akan setuju dengan gagasan Prof Hans Kung dan ide bolehnya wanita menjadi pastor. Logikanya, jika Yesus saja kawin dan mewariskan gerejanya kepada wanita, maka mengapa pengikutnya dilarang kawin dan melarang wanita menjadi pastor.

“Yesus Seminar”
Sebenarnya gagasan Dan Brown bukanlah hal baru. Tahun 1982, terbit buku Holy Blood, Holy Grail, yang bercerita tentang perkawinan Yesus dengan Mary Magdalene dan punya anak keturunan. Bahkan, soal kebangkitan Yesus itu sendiri menjadi perdebatan yang panas di kalangan teolog. Apakah kebangkitan itu benar-benar terjadi, atau sekedar cerita; apakah kebangkitan itu bersifat objektif atau subjektif.

Sejak tahun 1985, misalnya, sudah dimulai penyelidikan Yesus Sejarah yang lebih dikenal dengan nama ‘Jesus Seminar’ di Amerika Serikat. Mereka meragukan fakta historis, bahwa Yesus bangkit. Kelompok ini dimotori oleh John Dominic Crossan dan Robert W Funk yang disponsori oleh Westar Institute. Mereka mengadakan seminar-seminar di sejumlah kota di AS dan menerbitkan berbagai buku seperti The Five Gospel, The Acts of Jesus, dan The Gospel of Jesus.

Sejak ratusan tahun lalu, perdebatan tentang Yesus memang tidak pernah berhenti. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan dengan logika yang masuk akal, bahwa Yesus adalah Tuhan sekaligus manusia. Sejak awal-awal kekristenan, sudah muncul kelompok Arius yang menolak pendapat bahwa Yesus adalah Tuhan. Arius dan pengikutnya dikutuk Gereja.

Dalam bukunya, Who Killed Jesus (New York : Harper Collins Publishers, 1995), John Dominic Crossan, menulis cerita tentang kubur Yesus yang kosong adalah “satu cerita tentang kebangkitan dan bukan kebangkitan itu sendiri.” Cerita tentang Yesus seperti tertera dalam Bible, menurut Crossan, disusun sesuai dengan kepentingan misi Kristen ketika itu. Termasuk cerita seputar penyaliban dan kebangkitan Yesus.

Perdebatan seputar Yesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Yesus itu benar-benar ada atau sekadar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). Bahkan, perdebatan seputar Yesus itu kadangkala sampai menyentuh moralitas Yesus sendiri dalam aspek seksual. Soal ketidakkawinan Yesus misalnya: karena tidak mampu, karena tidak ada wanita, atau karena homoseks.

The Times, edisi 28 Juli 1967, mengutip ucapan Canon Hugh Montefiore, dalam konferensi tokoh-tokoh gereja di Oxford tahun 1967: “Women were his friends, but it is men he is said to have loved. The stricking fact was that he remained unmarried, and men who did not marry usually had one of three reasons: they could not afford it, there were no girls, or they were homosexual in nature.”

Jadi, wacana tentang Yesus dalam dunia akademis memang sudah bertebaran. Kelebihan Dan Brown adalah mampu mengangkat wacana itu ke dalam sebuah novel populer. “Ramuan yang tepat” antara fakta sejarah dan fiksi menjadikan novel ini memang berpotensi besar mengguncang kepercayaan iman Kristen. Apalagi, masyarakat Barat memang dikenal hobi dengan mitos dan legenda. Mereka tak henti-hentinya menciptakan berbagai fiksi dan mitos dalam kehidupan mereka : Superman, Batman, Spiderman, Rambo. Persis seperti nenek moyang mereka di Yunani Kuno. Kita tunggu saja, bagaimana kehebohan terjadi saat the Da Vinci Code muncul dalam bentuk film.

Pemicu Kegoncangan

Posted by giel at 5:02 PM 0 comments Links to this post
Obrolan sensitif tiga tokoh fiktif dalam fiksi sejarah The Da Vinci Code menjungkirbalikkan pemahaman mapan Gereja Katolik. Berikut beberapa diantaranya:

Konstantin mensponsori Alkitab

Raja Roma Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah alkitab baru, yang meniadakan semua ajaran yang berbicara tentang perilaku manusiawi Yesus, serta memasukkan ajaran yang membuatnya seakan Tuhan. Injil dan dokumen yang mencatat kehidupan Yesus sebagai manusia biasa dikumpulkan dan dibakar.

“Yesus Tuhan” adalah hasil voting

Penetapan Yesus sebagai putra Tuhan bukanlah bersumber dari ajaran Yesus, melainkan dari hasil voting yang terjadi pada Konsili Nicaea. Penetapan ini tidak lepas dari kepentingan politik Konstantin. Gereja masa awal telah mencuri Yesus dari pengikut aslinya, dengan membajak pesan-pesan manusiawinya, mengaburkannya dalam jubah ketuhanan.
Perempuan di Jamuan Terakhir

Tidak semua yang duduk di meja dalam Perjamuan Terakhir adalah laki-laki. Satu dari tiga belas orang dalam lukisan tersoho The Last Supper karya Leonardo Da Vinci adalah perempuan, yaitu Maria Magdalena. Maria duduk tepat di sisi kanan Yesus. Maria adalah sosok Yahudi ningrat dari klan Benjamin yang tidak lain adalah istri Yesus.

Maria Pewaris Gereja

Pada Perjamuan Terakhir, Yesus telah menduga akan ditangkap dan disalib. Maka ia memberi Maria instruksi bagaimana melanjutkan Gerejanya. Yang diberi petunjuk adalah Maria, bukan Peter. Peter tidak puas karena dinomorduakan di bawah perempuan. Dalam lukisan Da Vinci, Peter mencondongkan tubuh ke arah Maria seolah mengancam.

Cawan Suci adalah Maria

Cawan suci adalah kiasan untuk Maria Magdalena, perempuan yang mewadahi darah Yesus, mengandung keturunan Yesus Kristus. Dalam diri Maria mengalir tiga kekuatan luar biasa. Kekuatan sebagai pengemban titak Yesus untuk mengembangkan ajarannya, kekuatan sebagai istri yang mengandung anak Yesus, dan kekuatan sebagai keturunan raja Yahudi. Gereja, untuk membela diri dari kekuatan Magdalena, mengabadikan profil Magdalena sebagai pelacur dan menguburkan bukti-bukti pernikahan Kristus dengan perempuan ini. Gereja menghancurkan segala kemungkinan Yesus kawin dan mempunyai keturunan.

Anak cucu Yesus ada di Perancis

Maria Magdalena hamil saat penyaliban Yesus. Untuk keamanan Maria tidak punya pilihan lain kecuali melarikan diri dari Tanah Suci. Dengan bantuan paman Yesus yang bisa dipercaya, Josef dari Arimatea, ia diam-diam pergi ke Perancis. Disana ia melahirkan anak perempuan bernama Sarah. Pada abad ke-5, keturunan Yesus menikah dengan bangsawan Perancis, menciptakan garis keturunan Merovingian. Klan inilah yang mendirikan kota Paris.

Gereja menghabisi keturunan Yesus

Gereja terdahulu takut jika garis keturunan itu dibiarkan tumbuh, rahasia yang ditutup rapat akan terkuak, sehingga meruntuhkan doktrin fundamental Katolik. Di akhir abad ke-7 Vatikan bekerjasama dengan Pepin d’Heristal membunuh raja Perancis Dagobert. Pembunuhan Dagobert menyebabkan keturunan Merovingian hampir musnah. Namun putra Dagobert, Sigisbert, berhasil lolos dan melanjutkan garis keturunan Merovingian. Salah satu keturunannya adalah Godefroi de Bouillion.

Biarawan Sion dan Ksatria Templar

Biarawan Sion didirikan tahun 1099 di Yerusalem oleh Raja Perancis Godefroi de Boullion, dengan misi menyelamatkan dan melindungi Holy Grail: dokumen rahasia tentang Maria Magdalena, keturunannya, dan ajaran Kristen sejati. Untuk kepentingan itu, dibentuklah Ksatria Templar. Dalam perkembangannya pengaruh Templar meluas di Eropa. Paus Clement V yang tidak suka dengan perkembangan ini bersiasat dengan Raja Perancis Philippe IV, untuk membubarkan templar dan merampas harta mereka. Paus mengeluarkan perintah rahasia dalam kertas bersegel yang hanya boleh dibuka oleh prajuritnya di seluruh Eropa pada hari Jumat, 13 Oktober 1307. Maka pada hari itu, ksatria-ksatria yang tak terhitung jumlahnya ditangkap, disiksa secara kejam, dan akhirnya dibakar di tiang pembakaran sebagai pelaku bidah. Hingga kini Jumat 13 dianggap hari sial.

Holy Grail

Karena represi Gereja, Biarawan Sion bergerak sebagai kelompok persaudaraan rahasia. Mereka terus menjaga kerahasiaan Holy Grail, dan mewariskan rahasia itu turun temurun hingga era modern kini, melalui rangkaian pesan tersembunyi dalam anagram dan simbol. Termasuk dalam kelompok Persaudaraan Sion adalah Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci.

Lelucon Mengagumkan

Posted by giel at 4:59 PM 0 comments Links to this post
Salah satu buku yang ditulis untuk menangkis imajinasi Dan Brown, berjudul Fact and Fiction in the Da Vinci Code karangan Steven Kellemeier. Bisa dibilang inilah satu-satunya buku penangkal yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan Optima Pers bulan Februari 2005, dengan judul Fakta dan Fiksi dalam The Da Vinci Code.

Di toko-toko buku, buku setebal 107 halaman ini disandingkan dengan The Da Vinci Code. Tentu harapannya adalah mereka yang membeli Da Vinci akan mencomot pula buku ini.

Kellemeier mengupas satu demi satu isu-isu krusial dalam Da Vinci. Jika di awal Da Vinci Dan Brown menegaskan “Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia dalam novel ini adalah akurat”, maka Kellemeier menyodorkan fakta-fakta yang membuktikan bahwa akurasi itu hanya ada di “dunia pengganti” Dan Brown.

Misalnya tentang peran Konstantin dalam penyusunan alkitab baru. Menurut Kellemeier, Konstantin tidak ada kaitannya dengan pengumpulan alkitab. Daftar pertama kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara resmi disetujui oleh Paus Damasus tahun 382, disahkan pada Konsili Hippo dan Kartago tahun 393 dan 397. “Konstantin sudah berada di dalam makam selama sekitar setengah abad ketika daftar buku Alkitab secara resmi dikumpulkan” tulis Kellemeier. Sayang Kellemeier tidak tuntas menjelaskan masalah ini (baca juga tulisan : Jejak Konstantin di Gereja).
Tentang voting pada Konsili Nicaea untuk memutuskan apakah Yesus itu Tuhan atau manusia, Kellemeier bertutur yang terjadi tidaklah persis demikian. Setiap orang di Nicaea setuju Kristus adalah Tuhan, sekaligus ia adalah manusia. Mereka bertemu untuk memutuskan bagaimana keseluruhan keilahian itu bekerja. Kellemeier mengaku terjadi voting yang dimenangkan kelompok “Yesus adalah Tuhan”. Para uskup kemudian membakar ajaran Arius. Konstantin mengirim Arius ke pengasingan, tetapi kemudian memanggilnya kembali.

Bagaimana perkawinan Yesus dengan Maria Magdalena? Isu sensitif yang menjadi fondasi penting The Da Vinci Code ini tidak dijawab langsung oleh Kellemeier. Ia menjelaskan, Yesus adalah pengantin, tetapi ia tidak menikahi seorang perempuan. Ia menikahi Gereja. Setiap orang yang dibaptis atau menyatukan diri sendiri pada pengantin Ilahi, Gereja, mengambil bagian dalam perkawinan ilahi. “Allah menikahi dirinya sendiri pada kita melalui sakramen baptis.” Tulis Kellemeier.

Halaman demi halaman the Da Vinci Code dikupas oleh Kellemeier. Dia mengajak pembaca untuk sampai pada kesimpulan bahwa “Brown memang memberi kita suatu lelucon yang mengagumkan, suatu catatan untuk pembaca yang waspada dan berpengetahuan, bahwa keseluruhan novelnya adalah serangkaian lelucon aneh dan anagram untuk menghibur kita” (hlm. 87).

Dan di akhir bukunya, Kellemeier memastikan apa yang dikemukakan Dan Brown bukanlah bidah baru. Sudah sering dikemukakan orang, ratusan kali sebelumnya, dan ratusan kali pula ditentang. “Satu-satunya perbedaan antara Dan Brown dan kelompok sebelumnya adalah dia berhasil memperoleh lebih banyak uang dibanding mereka. Itulah harga kemajuan,” tulis Kellemeier.

Siapa Steven Kellemeier? Inilah kelemahan utama buku penyanggah Da Vinci ini. tidak ada penjelasan tentang siapa dia, karya apa yang sudah pernah ditulis. Sayang, padahal informasi tentang hal-hal itu akan memudahkan kita untuk mengukur kredibilitas karya ini.

Jejak Konstantin Di Gereja

Posted by giel at 4:54 PM 1 comments Links to this post
Benarkah Konstantin berperan penting dalam penyusunan doktrin Kristen?

Penuturan Dan Brown via tokoh Leigh Teabing tentang peran Kaisar Konstantin dan Konsili Nicaea 325 M dalam penyusunan Alkitab, bukan bualan fiktif. Banyak buku telah ditulis oleh sejarawan agama, seputar kontroversi Konsili Nicaea 325 M. Karena konsili inilah yang menetapkan Alkitab seperti bentuknya saat ini dan memformulasikan doktrin Trinitas. Doktrin yang menjadi fondasi ajaran Kristen.

Sepeninggal Yesus dan para sahabat, tidak ada kelompok penganut Kristen dalam jumlah besar. Yesus dan para sahabatnya memang tidak membawa syariat baru, selain menegakkan hukum Taurat Perjanjian Lama. Mereka itulah pengikut Kristen awal atau Yudeo-Christian. Kelompok ini hanyalah sebuah sekte Yahudi yang taat pada hukum Taurat.

Penyimpangan pertama terjadi ketika Paulus mulai menyebarkan ajaran Yesus ke kalangan gentile (non Yahudi). Konsili Yerusalem 49 M membebaskan mereka dari ritual khitan dan upacara-upacara Yahudi.
Banyak orang Yudeo-Christian yang menentang perlakuan khusus ini. kelompok ini memisahkan diri dari Paulus karena menganggap Paulus telah berkhianat dan menyimpang dari ajaran Yesus. Hingga 70 M, kelompok Yudeo-Christian merupakan mayoritas dalam gereja.

Ketua kelompok Christian adalah Jacques seorang kerabat Yesus. Ia didampingi oleh Petrus dan Yahya (Yohanes). Keluarga Yesus memegang peranan penting dalam kelompok Yudeo-Christian. Namun sejak pemberontakan Yahudi terhadap Romawi dan jatuhnya Yerusalem pada 70 M, keadaan menjadi terbalik. Aliran Yudeo-Christian dimusuhi dan dijauhi di seluruh wilayah kekuasaan Romawi. Sebaliknya, ajaran Paulus makin populer. Ajaran ini makin lama makin jauh dari sumber aslinya dan cenderung merupakan agama baru.

Perseteruan antara kubu Yudeo-Christian dan pengikut Paulus, menyebabkan dunia Kristen terbelah dalam berbagai aliran teologis seputar sifat ketuhanan dan kemanusiaan Yesus.

Zaman itu dikenal sebagai zaman patristik (abad pertama hingga abad keempat Masehi). Disebut zaman paristik karena pada zaman ini, umat kristiani terbelah dalam berbagai aliran teologis yang dianut oleh para patris (imam atau pendeta tinggi).

Ketika itu, para patris menghadapi dilema dalam mempertemukan konsep Tuhan dalam Taurat yang diterangkan sebagai Tuhan Yang Mahaesa (monotheist) dan konsep Tuhan menurut Paulus, yaitu Tuhan yang dualistis: Tuhan Bapak dan Tuhan Anak.

Dilemanya terletak pada keharusan menerima doktrin Paulus. Karena Pauluslah yang mula-mula menyebarkan ajaran Kristen ke kalangan gentile (non Yahudi yg jumlahnya lebih banyak dari Yahudi itu sendiri). Ketika itu, ajaran Kristen sudah meluas dan dianut oleh berbagai bangsa. Ajaran Kristen juga perlahan tapi pasti, menjadi agama mayoritas di Kekaisaran Romawi.

Alhasil, penolakan terhadap doktrin Paulus sama artinya dengan menolak keabsahan kedudukan orang Non Yahudi dalam agama Kristen. Karena dilema itu, para patris pun punya kesimpulan sendiri-sendiri.

Basilides (90-150 M) punya versi sendiri dalam menjelaskan dualisme konsep ketuhanan itu. Tuhan Perjanjian Baru yang digambarkan Paulus adalah Tuhan Bapak Yang Tertinggi yang menjadi sumber cinta kasih. Kristus adalah Anak dari Bapak Tuhan Yang Tertinggi. Kristus dikirim oleh Bapak untuk menolong manusia dari cengkeraman hukum keadilan Tuhan versi Perjanjian Lama.

Markion (100-160 M), sepaham dengan Basilides tentang adanya dua macam Tuhan. Markion berpendapat Yesus bertubuh maya bukan sebagai manusia kongkret. Namun, aliran ini hanya mengakui injil Lukas dan 10 surat kiriman Paulus. Aliran ini juga sangat membenci Tuhan versi Perjanjian Lama, yang dianggap berperan dalam penyaliban Yesus.

Ireneus (150-202 M). Patris ini tidak menerima konsep dua Tuhan. Menurutnya, Tuhan Perjanjian Baru dan Tuhan Perjanjian Lama adalah satu. Ireneus juga menolak konsep Yesus bertubuh maya. Menurutnya, Yesus adalah bener-bener jelmaan Tuhan.

Tertullianus (155-220 M). Aliran ini sejalan dengan ajaran Paulus, terutama tentang dosa warisan. Ia mencoba menyempurnakan konsep dosa warisan secara filosofis menurut hukum sebab akibat. Tentang ketuhanan Yesus, Tertullianus menganggap Yesus sebagai Tuhan yang lebih rendah daripada Tuhan Yang Tertinggi.

Arius (270-350 M) versus Athanasius (298-373 M). Konsep Arius tentang Ketuhanan menimbulkan kontroversi besar. Karena berbeda dengan kebanyakan patris, Arius menolak konsep ketuhanan Yesus. Menurut Arius, Yesus Kristus itu makhluk. Tidak sehakikat dengan Tuhan. Sifat-sifat ketuhanan pada Yesus bukan sifat yang hakiki, melainkan anugerah dari Tuhan. Faham Arius itu dengan cepat mendapat pengaruh di Mesir, Palestina, dan Konstantinopel. Ketika pertama kali melontarkan konsepnya, Arius adalah seorang prebister (imam kecil) di Iskandariah.

Dengan lantang, ia menantang ajaran Gereja bahwa Yesus adalah Tuhan. Karena ajarannya, Arius diusir dari Iskandariah. Namun pendapatnya mendapat dukungan dari uskup-uskup Nicomedia, Maradonia, Palestina, Assiut, dan bahkan Patriarch Konstantinopel.

Athanasius (uskup Iskandariah) adalah patris yang paling keras menentang Arius. Ia mengajarkan bahwa Anak (Yesus) bukan makhluk dan setengah Tuhan atau Tuhan yang kedua. Dia satu zat dengan Tuhan Bapak dalam segala-galanya. Ketika Anak itu datang ke dunia, itu berarti Tuhan sendiri yang datang menyelamatkan manusia.

Konstantin dan Konsili Nicaea

Perselisihan antara kubu Arius dan Athanasius membuat Kaisar Konstantin khawatir. Akhirnya Kaisar turun tangan. Dikumpulkanlah para Patriarch dan Uskup di seluruh negeri sebanyak 2.018 orang untuk bersidang di Nicaea pada tahun 325 M. Ini adalah konsili Oikumenis pertama dalam sejarah kekristenan, untuk membicarakan Yesus itu Tuhan atau bukan.

Perdebatan berlangsung sengit, tanpa ada keputusan. 1.700 uskup sepaham dengan Arius. Sisanya sejalan dengan Athanasius. Namun Konstantin enggan mengambil keputusan. Konsili pun dibubarkan.

Namun, setelah itu, Konstantin mengumpulkan para uskup yang dianggap sepaham dengan Athanasius. Melalui pemungutan suara, Konstantin menyatakan ajaran Athanasius yang benar dan menjadi ajaran resmi di kekaisaran Romawi. Dalam voting itu, kelompok Athanasius unggul dengan perbandingan 315 lawan 3. selain ketuhanan Yesus, konsili juga menetapkan tanggal paskah, administrasi sakramen, dan peran uskup.

Namun Konsili Nicaea belum sepenuhnya merumuskan konsep trinitas. Baru pada konsili Konstantinopel 381 M dan Konsili Chalcedon 451 M, Roh Kudus ditetapkan sebagai Tuhan. Maka lengkaplah ajaran Trinitas : Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.

Di masa Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan matahari, dan Konstantin adalah pendeta kepalanya. Ketika itu, Konstantin menghadapi kenyataan, 3 abad sepeninggal Yesus, penganut Kristen tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan pagan mulai berperang. Situasi dianggap mengancam dan memecah belah Romawi.

Konstantin memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah agama tunggal, Kristen. Caranya, mengalihkan para penganut pagan pemuja matahari menjadi Kristen, dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam tradisi Kristen yang sedang tumbuh. Melalui Konsili Nicaea, Konstantin berhasil menciptakan agama hybrid yang dapat diterima kedua belah pihak.

Konstantin juga menggeser hari Sabat Yahudi sebagai hari peribadatan Kristen, menjadi hari Minggu agar bertemu dengan hari kaum pagan memuliakan matahari, Sun-day.

Lord Headly, memerinci beberapa kepercayaan pagan yang mempengaruhi ajaran Kristen saat ini. salah satunya adalah Mithraisme yang berasal dari Persia. Mithra dipercaya sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. Mithras, Tuhan pra Kristen disebut Putra Tuhan dan Cahaya Dunia, lahir dan mati tanggal 25 Desember, dikubur dalam makam batu dan dibangkitkan setelah 3 hari.

Tanggal 25 Desember juga hari lahir Osiris (Dewa rakyat Mesir), Adonis (Dewa rakyat Syria), dan Dionysus. Lord Headly juga melihat ada persamaan antara kepercayaan Kristen sekarang terhadap Yesus dengan kepercayaan orang Yunani terhadap Apollo, dan orang Romawi terhadap Hercules. Sementara dalam kepercayaan bangsa Babylon, Tuhan Bel Astarte adalah anak tunggal Tuhan yang diturunkan ke bumi. Bel juga dipercaya lahir tanggal 25 Desember.

Pada waktu itu Gereja Yunani mengira hari lahir Yesus tanggal 7 Januari. Namun PausLiberius pada 530 M menetapkan kelahiran Yesus pada 25 Desember.

Meminjam tokoh antagonis, Leigh Teabing sebagai penutur, Brown melukiskan Konstantin sebagai seorang pagan (penganut polytheisme) seumur hidup. Dengan lebih memilih konsep Athanasius, dia bisa memasukkan unsur-unsur paganisme ke dalam Kristen, sehingga para pemeluk pagan tidak keberatan memeluk Kristen.

Menurut Brown, Konstantin dibaptis menjadi Kristen di ranjang kematiannya, karena terlalu lemah untuk melawan. Tapi dengan cara itulah, Konstantin telah berhasil menyelamatkan Romawi dari kehancuran. Konstantin juga berhasil mengabadikan sisa-sisa kepercayaan pagan pada dogma dan ritual kristen versi Konsili Nicaea 325M.

The Davinci Code Mengguncang Iman Kristiani

Posted by giel at 3:39 PM 0 comments Links to this post
Novel Dan Brown, The Da Vinci Code, menguak sejarah Yesus dan Gereja yang selama 2000 tahun terkunci rapat. Otoritas gereja kelimpungan membuat tangkisan.

Novel bermuatan agama nampaknya selalu mengundang kontroversi. Ini juga berlaku buat novel The Da Vinci Code. Mungkin, karena kontroversial, novel keempat Dan Brown ini menjadi novel terlaris tahun 2003 dengan total penjualan 5,7 juta eksemplar. Rekor penjualan selama 10 tahun yang dipegang novel The Bridges Over the Madison Country karya James Waller yang terjual 4,3 juta eksemplar pun terpecahkan.


Sejak terbit Maret 2003 lalu, sampai sekarang The Da Vinci Code sudah terjual lebih dari 20 juta kopi. Sepanjang 2003-2004, bisa jadi inilah buku yang paling sensasional. Selama 56 pekan (1 tahun 1 bulan), ia bertengger di puncak daftar buku fiksi terlaris versi The New York Times. Kini penerbitnya, Doubleday, masih terus mencetak buku yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa itu.

Di Indonesia, buku impor yang dibanderol Rp 65.500 untuk versi soft cover dan Rp 265.700 untuk hard cover juga laku keras. Sejak diterjemahkan penerbit Serambi, Juli lalu, kini sudah mengalami 9 kali cetak. Apalagi, setelah belasan media cetak berbahasa Inggris mengulas isinya. Di toko-toko buku, The Da Vinci Code dipajang mencolok. Beberapa toko buku di Jakarta sampai kehabisan stok thriller fiksi itu.

Saking larisnya, Columbia Pictures sudah melepas banyak duit untuk membeli hak ciptanya. Bintang-bintang Hollywood, seperti Russel Crowe, George Clooney, dan Tom Hanks yang biasanya jual mahal kalau ditawari main film, kini beramai-ramai melamar jadi pemain. Sebuah tim solid dengan sutradara Ron Howard, penulis skenario kelas berat, Brian Grazer dan John Galley, tengah bekerja keras untuk film yang bakal dirilis ada awal tahun 2006 itu.

Trio Howard, Grazer dan Goldsman adalah orang yang sama yang telah melahirkan Beautiful Mind pada tahun 2001. Film yang dibintangi aktor Australia, Russel Crowe itu menyabet dua buah Academy Award. Tak heran apabila Columbia Pictures yakin film The Da Vinci Code bakal mengguncang pasar. Saking optimisnya, perusahaan film inipun sudah membeli hak cipta karya Brown lainnya, Angels and Demons.

The Da Vinci Code memang fenomena. Sejak nongol sampai sekarang, novel tersebut memicu terbitnya 10 buku “perlawanan”. Semuanya mencoba mematahkan argumentasi yang ada di dalam The Da Vinci Code. Salah satu buku tandingan itu, Fact and Fiction in The Da Vinci Code karya Steven Kellemeier, telah diterjemahkan oleh penerbit Optima Press, Jakarta, Februari lalu.

Tak cuma itu. Beberapa gereja lokal pun menawarkan brosur dan studi pendampingan bagi mereka yang usai membaca novel itu, dan mempertanyakan iman kekristenannya. Sejumlah negara juga melarang peredarannya. Salah satunya adalah Libanon. Otoritas keamanan negara itu melarang novel yang isinya dinilai sangat bertentangan dengan keyakinan penganut Yesus dan melawan otoritas Gereja tersebut.

Mengapa para teolog, pastor, dan pendeta kelimpungan hingga sampai sibuk memberikan tangkisan? Jawabnya, “Buku itu telah menyerang sendi-sendi iman Kristen, sebab itu kami mesti bicara,” kata Erwin Lutzen, pastor senior Moody Church di Chicago, Amerika Serikat, penulis The Da Vinci Deception, seperti ditulis International Herald Tribune.

Meskipun cuma fiksi, Dan Brown yang populer lewat novel Digital Fortress membuka lembaran pertama novelnya dengan judul “Fakta”, “Biarawan Sion, perhimpunan rahasia yang dibentuk pada 1099, adalah organisasi nyata. Pada 1975, Bibliotheque Nationale dari Paris menemukan perkamen yang dikenal sebagai Les Dossiers Secrets, yang mengidentifikasi sejumlah anggota Biarawan Sion, termasuk Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo, dan Leonardo Da Vinci”. Pada akhir halaman ini, ditulis : “Semua deskripsi, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia dalam novel ini akurat.”

Brown mengawali cerita dengan terbunuhnya Jacques Sauniere, seorang kurator di Museum Louvre, Paris. Di tubuh korban dan sekitar lantai, penuh coretan simbol yang menarik perhatian. Lalu muncul Profesor Robert Langdon, pakar simbolisme religi dari Universitas Harvard, Amerika, dan Sophie Neveu, seorang ahli membaca sandi atau cryptographer yang tertarik pada kasus itu. Si cerdas dan perempuan Paris nan cantik berambut burgundi itu pun sepakat menguak misteri itu.

Mereka mendapat informasi, ternyata korban mewarisi mantel Leonardo. Mantel itu menjadi penanda bahwa korban tak lain adalah pemimpin komunitas rahasia : Biarawan Sion. Kelompok itu bertugas menjaga The Holy Grail atau cawan suci. Dari situ, jalinan cerita makin seru dan rumit. Dalam penyelidikannya, Langdon dan Sophie dihadapkan pada berbagai alat bukti yang butuh penafsiran. Mereka juga bertemu dengan Sir Leigh Teabing, sejarahwan yang kaya raya.

Teabing inilah yang nantinya berperan dalam mengungkap tanda tersembunyi pada jalinan teks kitab suci dengan berbagai karya seni, arsitektur, dokumen, mitologi, sejarah gereja, dan ajaran dari sekte-sekte kristen. Dalam pencariannya, mereka harus terbang dari Paris ke London. Mereka dibuntuti seorang rahib bernama Silas dari kongregasi Opus Dei. Opus Dei itu didirikan seorang pastor asal Spanyol, Josemaria Escriva, 1928. Ini sekte Katolik yang amat taat, yang banyak menyulut kontroversi.

Cerita menjadi seru karena mereka juga diburu polisi khusus Prancis, yang menduga Langdon sebagai pembunuh Sauniere. Sebelum akhirnya cerita kembali lagi ke Louvre, tempat pembunuhan terjadi, pembaca dihadapkan pada serentetan kode, teka-teki, misteri, dan cerita konspirasi yang memukau. Sampai akhirnya, terbongkarlah konspirasi yang sudah berlangsung 2000 tahun yang terkait dengan sejarah agama Kristen, Yesus, dan Biarawan Sion di masa lalu yang melibatkan tokoh kondang., seperti Leonardo Da Vinci, Isaac Newton, Botticelli, dan Victor Hugo.

Brown lihai membangun cerita lewat dialog yang lahir dari Sophie dengan Langdon, Sophie dengan Teabing, dan antarmereka bertiga. Dalam dialog itulah, beragam tafsir kontroversial Brown muncul. Misalnya, di Bab 55, dialog Sophie dan Teabing membawa pembaca pada tafsir baru mengenai Konsili Nicaea tahun 325. Pertemuan uskup sedunia itu, menurut Brown, diselenggarakan atas gagasan kaisar Romawi, Kaisar Konstantin. Tujuannya untuk menekan puluhan ajaran keagamaan yang waktu itu muncul. Dalam kesempatan itu, kaisar mendesakkan doktrin soal keilahian Yesus Kristus.

Konsili itu, di mata Brown, penuh muatan politis, yakni hendak menaklukkan dan menyatukan rakyat dalam ideologi tunggal di bawah Kekaisaran Roma. Dengan membuat penyeragaman tersebut, Brown menambahkan, dominasi atas rakyat di wilayah kekuasaan Romawi relatif lebih mudah dilakukan. Gereja selama berabad-abad berpijak pada hasil konsili itu.

Tafsir lain yang juga kontroversial adalah soal Holy Grail atau Cawan Suci yang tampak dalam lukisan Perjamuan Terakhir (The Last Supper) karya Leonardo Da Vinci. Dalam bible dikisahkan, sebelum disalibkan, malam harinya Yesus melakukan perjamuan terakhir bersama ke-12 muridnya. Dalam perjamuan itu, mereka minum anggur dari cawan atau piala, dan memakan roti tak beragi. Menurut Brown, lukisan Da Vinci yang tak menampakkan piala itu menyimpan suatu pesan khusus. Ia berkeyakinan, cawan itu sekedar metafora, yang artinya adalah garis suci keturunan. Kata itu diambil dari terminologi bahasa Perancis abad pertengahan, Sangraal (Holy Grail), dari sang (blood berarti darah) dan raal (royal berarti suci). Darah suci atau garis suci keturunan itu, menurut Brown, asalnya dari Yesus dan Maria Magdalena, yang menurunkan Dinasti Merovingian di Perancis abad pertengahan. Bagi Brown, Cawan Suci yang selama ini ditutup-tutupi itu adalah Maria Magdalena itu sendiri.

Yesus telah menikahi Maria Magdalena. Cuma, hal ini sampai sekarang tertutup rapat. Otoritas Gereja menutupinya, karena bertentangan dengan doktrin Yesus sebagai Tuhan. Tak ayal, buku Brown ini telah meruntuhkan akidah kristiani bahwa ternyata Yesus punya istri dan anak. Anak keturunan Yesus itulah – salah satunya Leonardo Da Vinci – yang diburu dan dihabisi oleh kalangan mapan gereja.

Cerita mengenai ini ada pada legenda yang hidup di abad ke-11. Brown rupanya mengacu ke sana. Isinya menyebutkan bahwa Maria Magdalena kemudian datang ke Prancis dan mendarat di Marsailles. Ia muncul sebagai wanita Yahudi terhormat dari Galilea, Israel. Sampai kini masih diyakini bahwa keturunannya hidup di Prancis dan menurunkan beberapa nama besar, seperti Leonardo Da Vinci, Newton, dan Hugo.

Menurut para pengkritiknya, meskipun Brown meyakini semua jalinan cerita novel itu sebagai fakta kebenaran, materi dasar cerita itu dinilai tak kredibel, dan dinterpretasikan serampangan. Untuk kepentingan novel terbarunya itu, ia mengekplorasi beberapa buku, seperti The Gnostic Gospels karya Elaine Pagels, The Templar Revelation : Secret Guardians of the True Identity of Christ tulisan Lyn Pick-nett dan Clive Prince.

Buku lain yang mempengaruhi novel Brown adalah Holy Blood, Holy Grail dari Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. Selain itu, masih ada lagi penulis perempuan yang mempengaruhi penggemar Shakespeare itu, yaitu Margaret Starbird dengan buku berjudul : The Goddes in the Gospels, Reclaiming the Sacred Feminine dan The woman with Holy Jar : Mary Magdalena and the Holy Grail. Oleh para pengkritiknya, buku-buku itu adalah “omong kosong yang keterlaluan.”

Friday, September 12, 2008

Injil Gulungan Laut Mati

Posted by giel at 10:55 AM 0 comments Links to this post
The Da Vinci Code karya Dan Brown bukanlah buku pertama yang mengantar publik ke diskusi yang selama ini hanya menarik perhatian segelintir sarjana alkitab. Tafsir ala post-modern terhadap temuan arkeologis baru bukanlah hal baru. Pembicaraan soal itu makin menghangat dalam lima dekade ini, seiring dengan ditemukannya “Naskah Gulungan Laut Mati” atau The Dead Sea Scrolls di sebuah gua dekat Qumran di Gurun Judea tahun 1950-an, dan teks Gereja Koptik di kawasan Nag Hammadi Mesir, 1945.

Tulisan dan fragmen itu ternyata bercerita soal Yesus dalam konteks pemahaman beragam komunitas. Isinya diluar wilayah keempat injil atau kitab Perjanjian Baru yang selama dua abad ini resmi diakui oleh gereja. Seperti kita tahu, keempat injil itu adalah injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Para sarjana kemudian menyebut temuan baru itu sebagai injil Maria, Petrus, Philipus, Thomas, dan Q. Dan sepertinya, tidak ada injil lain pendukung injil yang sekarang. Injil-injil dari luar yang semuanya sekarang tidak mendukung ketuhanan Yesus, oleh gereja dianggap injil “apokrifa” atau injil lemah/diragukan.



Nah, di mata Dan Brown, teks baru itu merupakan salah satu bukti adanya ajaran yang selamat dari ‘tekanan’ kekaisaran Roma di bawah Konstantin. Namun para sarjana Kristen menilai temuan baru itu tak bisa dipertentangkan dengan isi keempat injil resmi. Gereja resmi “mengenyampingkannya”, karena teks-teks itu secara sepihak oleh gereja ‘dianggap’ telah ditulis dalam rentang waktu yang jauh dari masa kehidupan Yesus.

Kemudian klaim Brown soal keilahian Yesus yang baru muncul setelah Konsili Nicaea ternyata tak cocok dengan dokumen gereja perdana yang menyebutkan bahwa orang Kristen sejak awal telah percaya bahwa Yesus adalah Raja, Tuhan, dan Penyelamat. Memang, setelah Yesus disalibkan, ekspresi awal mengenai kekristenan beragam sekali.

Semua ini bermula dari ketertarikan Brown pada Leonardo Da Vinci dan misteri yang tersembunyi di dalam lukisan-lukisannya. Saat itu dia sedang belajar sejarah seni di Universitas Seville di Spanyol. Bertahun-tahun kemudian, ketika dia melakukan riset untuk novel ketiganya, Angels & Demons, dan arsip-arsip rahasia Vatikan, dia berhadapan dengan enigma Da Vinci lagi. Sejak itulah secara khusus dia tertarik pada lukisan Da Vinci. Dalam sebuah wawancara, Brown mengatakan bahwa diperlukan riset selama setahun sebelum dia menulis The Da Vinci Code.

Brown bukan tidak menyadari mengenai besarnya potensi kontroversi yang terkandung dalam novelnya. Ketika berbicara di sebuah forum di Concord, New Hampshire, Mei tahun lalu, ia malah mengatakan sempat mempertimbangkan untuk memasukkan pula dugaan bahwa Yesus selamat dari penyaliban. Ia menyimpulkan itu berdasar “sumber-sumber yang kredibel”. Ia akhirnya mengabaikan itu karena “kelewatannya tiga atau empat langkah lebih jauh.” Brown memang mengangkat topik-topik gereja yang jauh lebih gemerlap. Disengaja atau tidak, novel Brown yang mencampurkan fakta dan fiksi itu telah membuka kembali sebuah episode kontroversi gereja yang demikian panjang.

Secara merendah, Brown mengakui memilih topik yang kontroversial ini untuk alasan pribadi : ”Terutama sebagai eksplorasi atas agama saya sendiri dan gagasan saya tentang agama. Saya yakin bahwa satu alasan mengapa buku ini menjadi kontroversial adalah bahwa agama adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didiskusikan dalam istilah-istilah kuantitatif. Saya menganggap diri saya sebagai siswa dari banyak agama. Niat tulus saya adalah bahwa The Da Vinci Code, selain menghibur pembaca, juga menjadi pintu pembuka bagi pembaca untuk mengawali eksplorasi agama bagi mereka sendiri.”

Uniknya, The Da Vinci Code ternyata tidak menuai hujatan dari Vatikan. Meski isinya panas dan meruntuhkan akidah kristiani, fatwa mati dan pembakaran buku seperti pernah dilakukan gereja pada abad pertengahan tak terjadi. Bahkan, menurut penerbitnya, Doubleday, kini Brown sedang fokus pada karya terbarunya. Mantan guru itu dalam situsnya di internet menyatakan terbuka atas debat yang akan bermunculan menghadapinya.

Apakah ketidakpedulian gereja mencerminkan bahwa kontroversial itu memang pernah ada?????

Thursday, September 11, 2008

Tanda-Tanda Kiamat Dalam Al-Qur'an

Posted by giel at 12:50 PM 2 comments Links to this post
Kebanyakan orang sedikitnya tahu tentang Hari Kiamat (as-Sa‘ah). Hampir setiap orang telah mendengar satu dan lain hal tentang kengerian kiamat itu. Akan tetapi, kebanyakan orang cenderung untuk bereaksi sama terhadapnya sebagaimana halnya sikap mereka atas perkara-perkara yang sangat penting lainnya, yaitu, mereka tidak ingin membicarakannya atau bahkan memikirkannya. Mereka berusaha dengan sangat keras agar tidak memikirkan teror yang akan mereka alami pada Hari Kiamat. Mereka tidak sanggup menahan (keprihatinan) hal-hal yang mengingatkan pada Hari Kiamat yang terdapat pada suatu berita mengenai sebuah kecelakaan yang mengerikan atau sebuah berita film tentang suatu bencana. Mereka menghindar untuk memikirkan tentang fakta bahwa hari itu pasti akan datang. Mereka tidak mau mendengar orang-orang lain yang membicarakan tentang hari yang luar biasa itu, atau membaca tulisan-tulisan para penulis tentangnya. Ini adalah sebagian cara yang dikembangkan oleh orang-orang itu guna terlepas dari memikirkan tentang kengerian Hari Kiamat.

Banyak orang tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Hari Kiamat itu sedang menjelang. Kita diberi contoh tentang hal ini dalam sebuah ayat di dalam Surat al-Kahfi, tentang seorang pemilik kebun anggur yang kaya raya.

Dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu. (Q.s. al-Kahfi: 36).

Ayat di atas memberitahukan mentalitas sesungguhnya dari seseorang yang mengaku percaya kepada Allah namun menghindari untuk memikirkan tentang kenyataan Hari Kiamat dan mengajukan pernyataan yang bertentangan dengan sebagian ayat al-Qur’an. Ayat yang lain menceritakan keraguan dan ketidakpastian yang melingkari orang-orang kafir mengenai waktu terjadinya saat terakhir.

Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,” niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).” (Q.s. al-Jatsiyyah: 32).

Sebagian orang menyangkal sepenuhnya bahwa Hari Kiamat sedang menjelang. Mereka yang memiliki pendapat ini disebutkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. (Q.s. al-Furqan: 11).

Sumber yang dapat membimbing jalan kita dan menunjukkan pada yang haq adalah al-Qur’an. Tatkala kita lihat apa yang dikatakannya, kita mempelajari sebuah fakta yang jelas. Mereka yang menipu dirinya sendiri mengenai Hari Kiamat ini melakukan kesalahan yang berat, karena Allah mewahyukan di dalam al-Qur’an bahwa tidak terdapat keraguan bahwa Kiamat itu sudah dekat.

Dan sesungguhnya as-Sa‘ah (Hari Kiamat) itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya … (Q.s. al-Hajj: 7).

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya as-Sa‘ah (Hari Kiamat) itu pasti akan datang. (Q.s. al-Hijr: 85).

Sesungguhnya as-Sa‘ah (Hari Kiamat) pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya … (Q.s. al-Mu’min: 59).

Mungkin ada sebagian orang yang berpikir bahwa pesan yang disampaikan al-Qur’an mengenai Hari Kiamat ini diwahyukan lebih dari 1.400 tahun yang lalu dan ini adalah sebuah jangka waktu yang panjang dibandingkan dengan panjangnya umur seorang manusia. Namun ini adalah perkara tentang akhir dunia, matahari dan bintang-bintang — pendek kata — alam semesta. Bila kita pikirkan dengan mendalam bahwa alam semesta ini usianya sudah milyaran tahun, empat belas abad adalah sebuah kurun waktu yang sangat singkat.

Seorang ulama besar pada masa ini, Bediuzzaman Said Nursi, menanggapi masalah serupa itu dengan demikian:

Al-Qur’an mengatakan, “as-Sa‘ah itu telah dekat.” (Q.s. al-Qamar: 1). Yaitu, Hari Kiamat sudah dekat. Bahwasanya belum datang setelah seribu tahun atau bertahun-tahun ini tidaklah mengurangi kedekatannya. Karena, Hari Kiamat adalah saat yang ditetapkan atas dunia ini, dan dalam kaitannya dengan umur dunia ini seribu atau dua ribu tahun adalah bagaikan satu atau dua menit saja dikaitkan dengan setahun. Saat Kiamat bukan hanya saat yang ditetapkan atas umat manusia sehingga ia hendaknya dikaitkan dengannya dan dilihat dari jarak jauh.


Di Bulan Puasa

Posted by giel at 12:17 PM 0 comments Links to this post
Marhaban ya Ramadhan...
Kalimat yang tidak jarang terdengar di telinga ketika tiba di Bulan yang penuh maghfirah itu. Mungkin sedikit yang bisa saya sampaikan tentang seluk beluk, makna yang tersirat, atau apalah tentang Bulan Ramadhan yang semoga bisa bermanfaat.

1. Keutamaan bulan Ramadan

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim)

2. Wajib berpuasa Ramadan jika melihat hilal awal Ramadan dan berhenti puasa jika melihat hilal awal Syawal. Jika tertutup awan, maka hitunglah 30 hari

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut-nyebut tentang bulan Ramadan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari). (Shahih Muslim)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (Shahih Muslim)

3. Larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum bulan Ramadan

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Janganlah engkau berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadan, kecuali bagi seorang yang biasa berpuasa, maka baginya silakan berpuasa. (Shahih Muslim)

4. Bulan yang berjumlah 29 hari

Hadis riwayat Ummu Salamah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. pernah bersumpah tidak akan menemui sebagian istri-istrinya selama sebulan. Dan setelah 29 hari berlalu, beliau datang menemui mereka. Kemudian beliau ditanya: Wahai Nabi! Baginda bersumpah tidak akan menemui kami selama satu bulan. Mendengar itu, beliau bersabda: Sesungguhnya bulan itu berjumlah 29 hari. (Shahih Muslim)
 

Giel's Note Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez